Javas Corner - Sebuah rekaman video memperlihatkan adab para santri di sebuah pondok pesantren di Probolinggo, Jawa Timur, mendadak viral di media sosial. Video yang diunggah oleh akun Instagram dan TikTok tersebut memicu beragam reaksi dari warganet, di mana arus kritik terpantau lebih mendominasi kolom komentar.
Dalam video berdurasi singkat tersebut, terlihat para santri wanita atau santriwati langsung menundukkan badan secara serentak ketika seorang ustazah melintas menggunakan sepeda motor sambil membunyikan klakson. Gestur menunduk ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan rasa takzim murid terhadap gurunya.
Namun, aksi tersebut justru menuai pro dan kontra yang cukup tajam di kalangan netizen. Sebagian warganet mengkritik tradisi tersebut karena dinilai berlebihan. Beberapa poin yang disoroti oleh pihak yang kontra antara lain keselamatan dan kepraktisan. Penggunaan klakson yang dibunyikan saat melintas dianggap kurang tepat jika dijadikan sinyal agar para santri menunduk, serta dinilai berpotensi membahayakan jika dilakukan di jalan raya.
Selain itu, sejumlah warganet berpendapat bahwa rasa hormat kepada guru tidak harus ditunjukkan dengan gerakan fisik yang terkesan kaku atau refleks yang dipaksakan setiap kali ada suara klakson. Mereka menilai bahwa adab seharusnya lahir dari kesadaran, bukan dari respons otomatis terhadap stimulus tertentu.
Di sisi lain, tidak sedikit pula pihak yang membela aksi para santri tersebut. Pihak yang mendukung memberikan sudut pandang berbeda. Mereka menyebut bahwa tradisi pesantren atau sam'an wa tha'atan, yang berarti mendengar dan taat, merupakan pilar utama dalam kehidupan pesantren untuk meraih keberkahan ilmu.
Selain itu, gestur menunduk saat orang yang lebih tua atau dihormati lewat merupakan kebiasaan lokal dan norma kesopanan yang sudah lama tertanam di lingkungan pesantren tersebut. Bagi mereka, apa yang dilakukan para santri bukanlah keterpaksaan, melainkan bentuk penghormatan yang tulus.
Fenomena ini memperlihatkan adanya perbedaan pandangan antara budaya internal pesantren yang menjunjung tinggi hierarki penghormatan guru dengan perspektif masyarakat umum di era media sosial. Apa yang dianggap wajar dan penuh makna di satu lingkungan, bisa jadi terlihat berlebihan di mata orang luar.
Pada akhirnya, setiap lingkungan memiliki nilai dan tradisinya sendiri. Yang terpenting adalah bagaimana tradisi tersebut dipahami dan dijalani dengan kesadaran, bukan sekadar formalitas. Dialog yang terbuka antara pesantren dan masyarakat luas dapat membantu mengurangi kesalahpahaman tanpa harus mengorbankan nilai-nilai yang telah lama dijunjung tinggi.
#Viral #Santri #Ustazah #AdabSantri #Probolinggo #Pesantren #BeritaViral #DebatWarganet #InfoTerkini #BudayaPesantren